Kata siapa desainer grafis harus jago gambar?

Halo gue rio, gue lulusan fakultas desain komunikasi visual jurusan desain grafis, yang sekarang jadi seorang art director di salah satu perusahaan retail fashion di indonesia sekaligus memiliki beberapa brand fashion dan juga branding consultant.


Oke deh, malem ini gue lagi pengen bahas soal pertanyaan yang paling sering gue dapet dari adik - adik yang punya niat kuliah di jurusan DKV, pertanyaanNya tuh “kak, kalo mau masuk jur. DKV harus jago gambar ga sih?”. Jujur selama lebih dari 11 tahun jadi desainer grafis sampe detik ini gue beneran ga bisa ngeGambar tapi alhamdulillah gue bisa lulus bahkan bisa dapet duit dari kerjaan gue sebagai desainer grafis.


Sebelum gue ngomong panjang lebar sebaiknya gue kasih pandangan apa sih desain grafis tuh? gue kutip dari beberapa sumber.


Menurut Suyanto, desain grafis didefinisikan sebagai “aplikasi keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri”. Aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual industri, produk dan perusahaan dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.

Sedangkan Jessica Helfand dalam situs www.aiga.com mendefinisikan desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.

Menurut Danton Sihombing desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.

Menurut Michael Kroeger visual communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).

Sedangkan Blanchard mendefinisikan desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan.


nah kalo para menurut ahli sih gitu, tapi kalo menurut pengalaman gue, gue mau mendefinisikan desain grafis sebagai suatu ilmu memecahkan permasalahan dengan cara yang relevan dan memiliki nilai artistik.


apa sih hubunganya antara solving problem dengan desain grafis? Nah pada dasarnya setiap klien yang datang ke desainer grafis sudah pasti punya masalah, tp coba lupain dulu orang-orang yang dateng trs bilang “mas bikinin logo donk, mas bikini flyer donk dan masih banyak hal ga penting lainya” kecuali kalo kalian beranggapan desainer grafis itu sama kaya tukang setting di percetakan / digital print hehehe ...


kalo kalian masuk ke ranah industri sesungguhnya, klien yang datang itu jauh lebih komplex, misalkan klien yang mengeluhkan penjualanya merosot, brand awereness nya menurun, atau misalkan ada caleg yang minta dibuatkan desain campaign untuk mendapatkan suara dari rakyat.


Nah,, disini kenapa gue bilang kalo desainer grafis itu sebagai problem solver, karena klien itu butuh solusi untuk segala permasalahannya. dan gue yakin semua permasalahan itu ga akan kelar kalo hanya dengan kelihaian kalian dalam menggambar.


banyak hal lain yang jauh lebih essensial dari sekedar menggambar, jadi buat adik - adik yang mau kuliah desain grafis jangan takut kalo kalian ga bisa gambar, karena desain grafis itu soal pola pikir, bukan sekedar teknik / skill.


dan terakhir gue mau kutip salah satu quotes dosen gue yang sampe sekarang selalu gue inget,


“desain grafis itu bukan tukang gambar, tapi tukang solusi”


thx,

r.abineri

Comments